kontrasmedia.com - Jakarta. Berakhirnya Perjanjian New START pada Kamis (5/2/2026) waktu setempat telah menghapus seluruh pembatasan kepemilikan senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Hilangnya pakta pengendalian senjata nuklir terakhir ini memicu kekhawatiran serius terhadap sistem pengendalian senjata internasional, memaksa China mengeluarkan peringatan keras.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam pernyataan resminya, menyatakan bahwa berakhirnya New START adalah hal yang 'disesalkan' dan menimbulkan 'kekhawatiran luas terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir dunia'.
Ia menegaskan bahwa perjanjian tersebut memiliki peran kunci dalam menjaga stabilitas strategis global.
Beijing secara terbuka mendorong AS agar segera merespons usulan Rusia untuk memperpanjang pembatasan senjata nuklir selama satu tahun.
Lin Jian mendesak Washington untuk 'secara aktif merespons proposal Rusia, mencari solusi yang bertanggung jawab, serta melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia sesegera mungkin'.
Dari Moskow, Kremlin melalui Juru Bicara Dmitry Peskov menyatakan pandangan negatif terhadap berakhirnya perjanjian ini, meski menegaskan komitmen Rusia untuk mempertahankan pendekatan yang bertanggung jawab terhadap stabilitas senjata nuklir.
Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menyebut bahwa dalam kondisi saat ini, kedua pihak kini tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun yang terkait dengan New START, sehingga bebas menentukan langkah selanjutnya.
Sebagai catatan, AS dan Rusia menguasai sekitar 90% senjata nuklir dunia.
Sementara China, meskipun merupakan kekuatan nuklir, menolak untuk bergabung dalam pakta pengendalian senjata dengan alasan jumlah persenjataannya jauh lebih kecil. Meski demikian, China menegaskan akan tetap berpegang pada strategi nuklir defensif dan kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, serta tidak berniat terlibat dalam perlombaan senjata. ***

