• Jelajahi

    Copyright © Kontras Media
    media news network

    Iklan

    Iklan Beranda

    Guru SD di Madura Temukan 13 Kg Koin VOC Saat Cangkul Lapangan Sekolah, Tolak Jadi Miliarder

    Sunday, February 8, 2026, 3:23 PM WIB
    Koin VOC

    Kontrasmedia.com - Nuryasin, seorang guru sekaligus kepala sekolah di Madura, tiba-tiba mengalami momen dramatis yang mengubah hidupnya. Dalam hitungan detik, ia ketiban durian runtuh yang berasal dari sejarah ratusan tahun.


    Nuryasin menjabat sebagai Kepala SDN Pejagan IV di Madura. Kisah penemuan besar ini terjadi di tengah suasana hujan yang mengguyur wilayah sekolahnya.


    Awal mulanya sangat sederhana. Hujan deras menyebabkan lapangan sekolah menjadi becek dan berlumpur.


    Nuryasin merasa khawatir, lumpur tersebut akan terbawa masuk dan mengotori lantai sekolah yang baru dibersihkan oleh para murid.


    Ia pun berinisiatif untuk mengatasi masalah genangan air dan lumpur tersebut agar lingkungan sekolah tetap nyaman.


    Nuryasin kemudian mengambil cangkul dan mulai menggali tanah di sekitar halaman sekolah.


    Ia bermaksud mengambil tanah kering untuk menimbun area lapangan yang becek dan penuh air.


    “Saya menggali tanah di halaman, untuk menimbun bagian lainnya yang becek bekas hujan,” ungkap Nuryasin, menjelaskan motivasi awalnya.


    Proses penggalian berjalan lancar. Nuryasin berhasil menimbun beberapa titik becek yang menjadi fokusnya saat itu.


    Namun, saat ia hendak menggali tanah kering lebih dalam lagi, kurang lebih pada kedalaman 25 hingga 30 sentimeter, sesuatu yang tak terduga terjadi.


    Nuryasin tiba-tiba terperanjat. Ia melihat ada benda aneh di lubang galiannya.


    Setelah dikeluarkan, benda tersebut dikenali sebagai gerabah kuno, sejenis wadah tembikar yang usianya diperkirakan sudah sangat tua.


    Betapa kagetnya Nuryasin ketika membuka gerabah itu. Isinya ternyata adalah harta karun tak terduga berupa mata uang koin kuno.


    Koin-koin yang ditemukan itu memiliki tulisan VOC dan lambang Kerajaan Belanda, menunjukkan peninggalan era kolonial.


    Ditemukan dua jenis koin. Jenis pertama berdiameter 2,1 cm dengan tahun pemakaian antara 1746 hingga 1760.


    Jenis kedua memiliki diameter lebih besar, 2,9 cm, dengan tulisan Indiae Batav dan tahun antara 1819 hingga 1828.


    Kabar penemuan harta karun oleh Nuryasin di Madura ini langsung membuat gempar publik di seluruh Indonesia pada saat itu.


    Otoritas terkait, termasuk para ahli sejarah dan arkeologi, langsung bergegas menuju lokasi untuk memastikan keaslian temuan tersebut.


    Singkat cerita, temuan Nuryasin dibenarkan sebagai peninggalan sejarah berupa koin perak dari masa VOC dan penjajahan Belanda.


    Total berat seluruh koin yang ditemukan mencapai 13 kilogram, yang jika dikonversi nilainya setara miliaran rupiah.


    Mengetahui nilai historis dan ekonomi yang tinggi, banyak orang mulai berspekulasi bahwa Nuryasin akan menjadi seorang miliarder baru.


    Beberapa pihak mendorongnya untuk menjual temuan arkeologi tersebut kepada kolektor alih-alih menyerahkannya kepada pemerintah.


    Namun, Nuryasin menunjukkan integritas yang luar biasa. Ia menolak godaan untuk mendulang kekayaan pribadi dari benda bersejarah itu.


    “Tapi, itu tak mungkin saya lakukan. Uang temuan ini akan kami serahkan pada museum, atas dasar petunjuk Depdikbud,” tegas Nuryasin.


    Keputusan Nuryasin ini membuatnya batal menjadi miliarder secara instan, namun ia berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai penemu harta karun bersejarah.


    Penemuan harta karun di lapangan SD ini kemudian menguak tabir sejarah baru, terutama mengenai cara masyarakat bertransaksi di era VOC ratusan tahun silam.


    Jauh sebelum VOC datang, masyarakat Indonesia sudah terbiasa bertransaksi menggunakan mata uang, bukan hanya barter.


    Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, koin emas sering digunakan untuk transaksi skala besar, misalnya jual beli tanah.


    Ketika Kongsi Dagang VOC datang, mereka berupaya menyeragamkan mata uang yang beredar di Nusantara.


    VOC mengedarkan berbagai jenis mata uang, seperti rijksdaalder, dukat, stuiver, gulden, dan doit, yang terbuat dari emas, perak, tembaga, hingga nikel.


    Salah satu koin yang paling membekas adalah doit, yang lambat laun menjadi asal kata 'duit' sebagai sebutan umum untuk uang di Indonesia.


    Setelah VOC bangkrut pada tahun 1799, mata uang mereka digantikan oleh mata uang pemerintah Hindia Belanda.


    Mata uang era VOC pun menjadi relik sejarah, sebagian terpendam di dalam tanah, menunggu untuk ditemukan, seperti yang terjadi pada Nuryasin 33 tahun lalu.


    Pantau terus www.kontrasmedia.com untuk mendapat info terbaru.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    CLOSE ADS
    CLOSE ADS
    close