-->
  • Jelajahi

    Copyright © Kontras Media
    media news network

    Iklan

    Iklan Beranda

    Terungkap! Beda Keterangan Kronologi Penganiayaan Relawan di Boyolali, Versi TNI dan Simpatisan Ganjar-Mahfud

    Tuesday, January 2, 2024, 11:37 AM WIB


    Sebuah peristiwa pengeroyokan menimpa relawan Ganjar Pranowo-Mahfud MD di depan Markas Kompi B Raider 408/Sbh, Boyolali, Jawa Tengah, pada Sabtu (30/12/2023) siang.

    Sebanyak tujuh orang menjadi korban, dengan dua di antaranya mengalami luka serius dan harus dirawat intensif di RSU Pandan Arang, Boyolali.

    Terjadi perbedaan kronologis antara versi TNI dan versi Tim Pemenangan Daerah (TPD) Ganjar-Mahfud Boyolali mengenai kejadian tersebut.

    Versi TNI: Kesalahpahaman yang Berujung Penganiayaan

    Menurut Kapendam IV Diponegoro Kolonel Inf Richard Harison, peristiwa tersebut terjadi karena kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

    Sejumlah anggota Kompi B mendengar suara berisik dari sepeda motor, yang kemudian ditegur oleh anggota karena bermain gas dengan knalpot brong.

    Kesalahpahaman dan cek-cok mulut kemudian berujung pada penganiayaan oleh oknum anggota TNI.

    "Informasi sementara yang diterima, bahwa peristiwa tersebut terjadi secara spontanitas karena adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak," kata Richard saat dihubungi, Sabtu.

    Awalnya, kata Richard, sejumlah anggota Kompi B tengah bermain bola voly sekira pukul 11.19 WIB mendengar adanya suara berisik yang berasal dari kendaraan sepeda motor.

    "Tiba-tiba mendengar suara bising rombongan sepeda motor kenalpot brong yang oleh pengendaranya dimain-mainkan gasnya," ungkapnya.

    Saat itu, sejumlah anggota keluar markas untuk mengecek. Setelahnya, terdapat lagi dua orang lainnya yang juga melakukan hal yang sama.

    "Lalu dihentikan dan ditegur oleh anggota. Selanjutnya terjadi cek-cok mulut hingga berujung terjadinya tindak penganiayaan oleh oknum anggota," jelasnya.

    Versi TPD Ganjar-Mahfud Boyolali: Pengeroyokan Tanpa Imbauan atau Komunikasi

    Menurut Ketua TPD Boyolali, Susetya Kusuma Dwi Hartanta, para korban dilempari batu dan dihadang menggunakan bambu sebelum mengalami penganiayaan.

    "Yang kedua dilanjutkan lagi dengan langsung penyerangan, penyergapan, pemukulan," jelasnya Minggu (31/12/2023)

    Oknum TNI disebut melakukan penyerangan tanpa adanya imbauan atau komunikasi terkait kesalahan korban.

    "Tidak ada imbauan, tidak ada komunikasi, tetapi fakta di lapangan, mereka (Oknum TNI) keluar dari kompi langsung menghadang dan melakukan penyerangan," kata Susetya yang juga Ketua DPC PDI P Boyolali.

    Mereka dianggap mengganggu karena mengendarai sepeda motor dengan knalpot brong.

    Ia menyebut penganiayaan ini mengakibatkan 6 korban luka-luka.

    Empat korban sudah diperbolehkan pulang, sementara 2 korban masih dirawat di RSUD Pandan Arang Boyolali.

    Dua korban yang masih dirawat intensif di RSU Pandan Arang adalah Arif Diva Ramandani (20) dan Slamet Andono (26).

    Keduanya mengalami luka serius pada sekujur tubuh, terutama bagian kepala.

    Ketua TPD Boyolali, Susetya Kusuma Dwi Hartanta, mengatakan bahwa pihaknya akan memfasilitasi keluarga korban untuk mencari keadilan.

    "Nanti jika ada cacat permanen, tentunya kita juga akan bertanggungjawab. Kasihan, apalagi ada yang anak yatim piatu," kata Susetya.

    DPC PDI P Boyolali juga akan menjamin perawatan korban hingga sembuh.

    Pihaknya telah berkoordinasi dengan TPD Jawa Tengah, dan TPN Ganjar-Mahfud mengenai pendampingan hukum bagi korban ini.

    "Beliau di TPN dan TPD Siap, bahkan sudah menelpon sudah menyiapkan langkah-langkah," kata Susetya.

    Bahkan, anggota TPN juga sudah ada yang turun menjenguk korban di rumah sakit. Termasuk Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo juga akan menjenguk korban. "Pak Ganjar juga akan rawuh di rumah sakit," jelasnya.

    Respon Panglima TNI

    Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan Komadan Kodim (Dandim) 0724/Boyolali Letkol Inf Wiweko Wulang Widodo telah melakukan langkah-langkah terkait penganiayaan yang dilakukan anggota Yonif Raider 408/SBH terhadap relawan Ganjar-Mahfud MD di Boyolali pada Sabtu (30/12/2023).

    Salah satu langkah yang dilakukan Wiwieko, kata Agus, adalah memberikan santunan kepada para korban.

    "Jadi itu, Dandim sudah memberikan pernyataan ya tentang kejadian yang di Boyolali itu. Kemudian Dandim juga sudah melakukan langkah-langkah, memberikan santunan dan lain sebagainya," kata Agus di Gedung Promoter Mapolda Metro Jaya Jakarta pada Minggu (31/12/2023).

    Ketika ditanya lebih lanjut perihal tindakan yang dilakukan kepada para oknum yang terlibat, Agus mengatakan hal tersebut menjadi ranah KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak.

    Maruli, kata Agus, sudah memerintahkan unsur satuan terkaitnya untuk menangani persoalan tersebut.

    "Saya rasa itu ranahnya Bapak KSAD ya. Bapak KSAD sudah memerintahkan unsur satuan terkaitnya untuk menangani masalah itu," kata Agus.

    Repon Ganjar Pranowo

    Menyikapi hal itu, Ganjar mengaku langsung menghubungi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak, hingga Panglima Kodam (Pangdam) setempat.

    Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menegaskan bahwa kekerasan tidak bisa dibenarkan.

    "(Ada relawan) bawa motor, dicegat, kemudian dikamplengi (dipukuli). Langsung kita urus, Panglima TNI, Kasad, Pangdam, saya kontak semua, (tindakan oknum ini) tidak benar ini, langsung semua dihukum, responsnya cepat," kata Ganjar saat menyampaikan sambutan di Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nawawi Berjan di Lugosobo, Gebang, Purworejo, Minggu (31/12/2023).

    Tak hanya itu,  Ganjar Pranowo menjenguk relawannya itu di rumah sakit.

    Ganjar  ditemani oleh sang istri yakni Siti Atikoh saat ke RSUD Pandan Arang Boyolali, Jawa Tengah, pada Minggu (31/12/2023) malam untuk menjenguk Slamet Andono dan Arif Diva.

    “Saya datang kesini sebagai bentuk pertanggungjawaban karena dia pendukung saya. Dari tujuh anak yang mengalami, ada dua yang masih dirawat. Satu (korban) saya tidak sempat ngomong karena masih tidur, karena situasinya masih bengkak-bengkak, yang satu sudah bisa diajak bicara,” kata Ganjar usai menjenguk korban.

    Dikatakan Ganjar dirinya sempat berdiskusi dengan pihak rumah sakit terkait kondisi dari Slamet Andono dan Arif Diva yang menjadi korban penganiayaan.

    “Hasil pemeriksaan dokter baik dan bagus ya, tidak ada gegar otak. Tulang tengkoraknya bagus, terus kemudian otaknya bagus, satu memar patah gigi,” jelas Ganjar.

    Lebih jauh, Capres berambut putih ini juga mengatakan bahwa dia mendengarkan langsung cerita dari para korban mengenai peristiwa penganiayaan.

    “Memang mendengarkan cerita dari dia (korban). Jadi kejadiannya dia lagi berhenti di lampu merah. Tiba-tiba di pukul tidak ada cerita, jadi kalo ada penjelasan lain rasa-rasa harus pengadilan biar semuanya sama,” tegas Ganjar.

    “(Yang) pertama menceritakan itu dia ditarik ke dalam dipukuli mereka berseragam,” tambah Ganjar.

    Ganjar turut mengimbau kepada semua pihak dalam menyelesaikan masalah tidak boleh ada kekerasan bahkan sampai main hakim sendiri.(tribunnews.com)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Wisata

    +
    CLOSE ADS
    CLOSE ADS
    close