![]() |
| Detik-detik mencekam saat kapal selam militer Amerika Serikat meluncurkan torpedo yang menenggelamkan kapal fregat Iran di perairan internasional. |
kontrasmedia.com - Ketegangan militer antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat (AS) kini mencapai titik nadir pasca insiden tragis penenggelaman kapal perang di Samudra Hindia.
Salah satu kapal fregat kebanggaan Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, dilaporkan karam sepenuhnya setelah dihantam serangan torpedo mematikan dari kapal selam milik militer Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan pernyataan keras yang menuduh pihak Washington telah melakukan kekejaman luar biasa di wilayah perairan internasional.
Pemerintah Teheran memperingatkan dengan tegas bahwa Amerika Serikat akan "sangat menyesali" tindakan provokatif yang telah ditetapkan sebagai preseden berbahaya di lautan dunia.
Insiden ini menjadi sorotan global karena merupakan pertama kalinya Amerika Serikat menenggelamkan kapal musuh menggunakan torpedo sejak berakhirnya era Perang Dunia II.
Serangan Mendadak di Perairan Internasional
Menlu Abbas Araghchi menjelaskan bahwa kapal fregat Dena sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti latihan militer resmi di pelabuhan Visakhapatnam, India bagian timur.
Kapal yang membawa hampir 130 pelaut tersebut dihantam torpedo tanpa adanya peringatan terlebih dahulu saat berada sekitar 2.000 mil jauhnya dari garis pantai Iran.
Araghchi mengecam tindakan tersebut melalui akun media sosial X miliknya dan menyebut bahwa Amerika Serikat telah melanggar norma keselamatan di laut internasional secara brutal.
Pihak Iran menilai serangan ini bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan sebuah bentuk terorisme laut yang dilakukan secara terencana oleh pihak Pentagon.
Keyakinan Iran bahwa kapal mereka aman di wilayah perairan internasional ternyata dipatahkan oleh strategi serangan "kematian senyap" yang dilancarkan kapal selam AS.
Klaim Kemenangan Militer dari Amerika Serikat
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, secara terbuka mengumumkan keberhasilan operasi kapal selamnya dalam melumpuhkan kapal perang yang dianggap sebagai ancaman tersebut.
Hegseth menegaskan bahwa kapal perang Iran tersebut sebenarnya sedang dipantau secara ketat sebelum akhirnya diputuskan untuk dinonaktifkan secara total di dasar laut.
Tangkapan layar dari rekaman video yang dirilis Departemen Pertahanan AS menunjukkan momen dramatis saat torpedo menghantam badan kapal hingga memicu ledakan besar.
Amerika Serikat memposisikan serangan ini sebagai langkah defensif guna menjaga kepentingan keamanan nasional mereka di jalur pelayaran strategis Samudra Hindia.
Namun, bagi Iran, klaim Amerika tersebut hanyalah alasan untuk menutupi tindakan agresi militer yang tidak berdasar hukum internasional yang jelas.
Evakuasi Jenazah dan Operasi Penyelamatan
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, melaporkan bahwa kapal IRIS Dena sempat mengirimkan panggilan darurat sesaat setelah terkena hantaman torpedo.
Meskipun tim penyelamat segera bergerak ke lokasi, kapal tersebut sudah tenggelam sepenuhnya dalam waktu satu jam sebelum bantuan kemanusiaan tiba di titik koordinat.
Hingga Kamis (5/3/2026), pihak berwenang Sri Lanka melaporkan telah mengevakuasi sedikitnya 87 jenazah personel militer Iran dari area perairan sekitar 40 kilometer selatan Galle.
Operasi pencarian masih terus dilakukan secara intensif di permukaan laut yang tertutup bercak minyak guna menemukan 61 personel lainnya yang hingga kini dinyatakan hilang.
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, mengonfirmasi bahwa pasukannya berhasil menyelamatkan 32 pelaut Iran yang selamat meski dalam kondisi luka-luka berat.
Dampak Geopolitik dan Ancaman Balasan
Para penyintas saat ini tengah menjalani perawatan medis intensif di sebuah rumah sakit di kota Galle di bawah pengawalan ketat otoritas setempat.
Kematian puluhan tentara Iran dalam insiden ini diprediksi akan memicu gelombang kemarahan besar di Teheran dan mempercepat rencana aksi balasan militer.
Ancaman "penyesalan besar" yang dilontarkan Araghchi memberikan sinyal bahwa Iran mungkin akan mengincar aset-aset maritim Amerika Serikat di kawasan Teluk maupun perairan internasional lainnya.
Dunia internasional kini khawatir insiden torpedo ini akan menjadi pemicu perang terbuka yang lebih luas dan tidak terkendali di kawasan Timur Tengah hingga Asia Selatan.
Ketegangan yang terjadi di Samudra Hindia ini membuktikan bahwa konflik AS-Iran telah melampaui batas geografis tradisional dan mengancam keamanan jalur perdagangan global. ***

